PENCARI DATA / INFORMASI

Kamis, 09 Oktober 2008

Teknik Wawancara Jurnalistik

Teknik Wawancara [downloads]





A. Pendahuluan
Sumber berita, selain diperoleh dalam suatu peristiwa atau kejadian di
lapangan juga bisa dari hasil wawancara. Mengadakan wawancara atau interview pada
prinsipnya merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih dalam dari sebuah
berita dari sumber lain yang relevan. Informasi atau keterangan itu bisa berupa pendapat,
kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainya.
Dalam dunia jurnalistik, wawancara selalu dimaksudkan sebagai upaya untuk
mendapatkan berita, komentar atau opini sehubungan dengan sesuatu yang berhubungan
dengan otoritas yang dimiliki seseorang. Misalnya, untuk mendapatkan keterangan atau
informasi tentang kampanye advokasi penegelolaan sumberdaya hutan yang adil dan
berkelanjutan atau perubahan PP tentang pengelolaan hutan negara.
Person yang mempunyai otoritas untuk itu cukup banyak, dari Kelopok Tani
Hutan, Kepala Dinas Kehutanan sampai Menteri Kehutanan. Namun wawancara yang
dilakukan untuk mendapat bahan tulisan yang bersifat ‘human interes’ tidak harus
dilakukan dengan seseorang yang mempunyai otoritas tetapi siapapun bisa menjadi
sumber berita untuk diwawancarai.
Misalnya, kelompok tani di Gunungkidul dan Kulonprogo yang tengah berjuang
untuk mendapat izin pengelolaan hutan negara tidak hanya sekadar 5 tahun, tetapi 35
tahun. Perjuangan ini sangat menarik karena menyangkut mati hidup kelompok tani yang
berada di sekitar hutan. Hidup dan matinya masyarakat di sekitar hutan tiba-tiba diputus
tentu akan menjadi pusat perhatian.
Untuk melengkapi dan mempertajam suatu berita wartawan harus melakukan
wawancara. Misalnya, seseorang berhasil mengendus kasus illegal logging, selain
memberitakan kasus didapatkan dari pernyataan seseorang harus mencari informasi
yang akurat dan faktual untuk mendapat kebenaran dari kasus tersebut kepada yang lebih
punya otoritas untuk memperjelas persoalan, siapa di balik kasus tersebut dan
sebagainya.
Hasil dari wawancara diharapkan menjadi laporan yang lebih lengkap dengan
mengungkapkan fakta yang lebih lengkap pula, memberikan gambaran yang lebih
lengkap tentang illegal logging. Wawancara dapat dilakukan dengan pemangku adat,
polisi hutan, masyarakat di sekitar hutan, juga penguasa di tingkat kelurahan, kecamatan,
kabupaten, gubernur, Kapolri sampai pelaku.
Dengan demikian berita yang disajikan merupakan perpaduan antara fakta (facs
news) dan opini atau pendapat atau omongan (talk news). Untuk menggali keterangan
atau informasi atau keterangan dari seseorang, wawancara yang diperlukan tidak sekadar
sambil lalu, tetapi memerlukan kekhususan. Dalam dunia jurnalistik wawancara khusus
opini mempunyai nilai tambah, lebih-lebih kalau yang menjadi sumber wawancara
memiliki nama atau keistimewaan dan opini yang dikemukakan merupakan suatu yang
sama sekali baru dan belum pernah dikemukakaan kepada media lain.

B. Persiapan Wawancara
Untuk melakukan wawancara memerlukan persiapan dengan langkah-langklah sebagai
berikut:
Pertama, sebelum melakukan wawancara harus menguasai persoalan yang akan
dipercakapkan, kalau perlu membuat daftar pertanyaan dari yang bersifat umum sampai
detail.
Kedua, tahapan berikutnya menentukan arah permalahan yang digali dengan
dilengkapi berbagai berita berkaitan dengan bahan yang akan dijadikan bahan
wawancara.
Ketiga, setelah menentukan permasalahan, menetapkan siapa-siapa saja yang
akan menjadi nara sumber untuk diwawancarai. Dalam hal ini harus jelas kriterianya
mengapa dalam masalah ini harus mewawancarai nara sumber tersebut.
Keempat, mengenali sifat-sifatnya yang akan menjadi nara sumber sebelum
terjadi wawancara. Untuk mengenali lebih dekat nara sumber, bertanya kepada oranglain
yang tahu atau dekat dengan nara sumber, atau membaca tulisan dan riwayat hidup
termasuk hobi, keluarganya, dan kesukaan lainnya.
Kelima, sebelum bertatap muka membuat janji dulu sebelum melakukan
wawancara, untuk meminta dan m,enentukan kapan waktu yang luang dan tepat tepat
untuk melakukan wawancara, karena biasanya sumber berita person yang sibuk, sehingga
pengaturan waktu cukup ketat.
Keenam, yang tak kalah pentingnya persiapan mental untuk mengadakan
wawancara, karena masing-masing pribadi punya karakter yang berbeda, sehingga
diperlukan membaca karakter calon nara sumber. Persiapan lainnya, peralatan yang
diperlukan antara lain, bloknote, ballpoint, tape recorder atau kamera kalau memang
diperlukan. Dianjurkan untuk berpakaian rapi dan menghindari penampilan yang kurang
sopan.
Persiapan-persiapan tersebut penting untuk mendapat perhatian, karena jangan
sampai mempermalukan diri sendiri, lebih-lebih lembaga yang menjadi induk dari
kegiatan wawancara ini. Dengan persiapan yang matang insya Allah mampu menggali
sumber berita atau informasi yang diperlukan untuk mengembangkan berita dan sekali
lagi sebelum bertemu dengan nara sumber cek ulang peralatan jurnalistik.
Untuk mendapatkan hasil yang baik maka harus mampu menemukan orang yang,
sesuai dengan bidang dan keahlian, atau bisa juga karena hobi terkait dengan
permasalahan yang akan menjadi topik wawancara. Misalnya, soal kerusakan lingkungan
tentunya wawancara di arahkan kepada orang-orang menguasai masalah tersebut,
sehingga pembicaraan ‘nyambung’.
Kalau sudah ada janji mau wawancara dan waktu sudah ditentukan maka sudah
selayaknya menepati waktu yang sudah disepakati bersama. Namun wawancara itu bisa
dilakukan di manadan kapan saja, asal sama-sama dalam kondisi yang memang sifatnya
serba mendadak, tetapi penguasan masalah tetap harus dipegang, supaya informasi yang
didapatkan sesuai dan memberi nilai tambah pada berita yang diharapkan.
Wawancara bisa dilaksanakan di mana saja, seperti di depan pintu, ketika nara
sumber sedang masuk mobil asal nara sumber memberi kesempatan seperti itu. Namun
itu diperlukan persiapan matang dari wartawan yang bersangkutan, terutama pengenalan
lebih dulu pewancara dengan nara sumber.

C. Pelaksanaan Wawacara
Tiba saatnya wawancara yang perlu mendapat perhatian hal-hal sebagai berikut:
Menjaga Suasana
Ini sangat penting dalam pelaksanaan wawancara dibuat lebih rileks, sehingga
berjalan dengan santai tidak terlalu formal meskipun membahas masalah yang serius.
Untuk menciptakan suasana yang nyaman dan baik memerlkan waktu, karena itu sebelum
memasuki materi yang akan dipercakapkan lebih enak kalau dibuka dengan hal-hal yang
umum. Misalnya, soal keadaan nara sumber baik itu masalah kesehatan, hobi dan
sebagainya yang mungkin menyetuh hati.
Meski sifat basa-basi ini diperlukan untuk menarik simpati supaya nara sumber
sehibngga tidak terlalu pelit dengan pernyataan atau pendapat baru. Kecuali kalau
pewawancara sudah sangat dekat basa-basi itu bisa dikurangi, lebih-lebih kalau memang
waktu untuk wawancara sangat terbatas, pewawancara harus tanggap. Itupun juga kita
dibicarakan sebelum melangsungkan wawancara.
Dalam menjaga suasana ini sudah selayaknya dilakukan, antara lain jangan
membuat nara sumber marah atau tersinggung, sehingga percakapan langsung diputus.
Jangan marah-marah atau memojokkan nara sumber.
Bersikap Wajar
Dalam wawancara seringkali berhadapan dengan nara sumber yang benar-benar
pakar, tetapi tidak jarang yang dihadapi tidak menguasai persoalan. Namun demikian
tidak perlu rendah diri atau merasa lebih tinggi dari nara sumber, seharusnya bisa
mengimbangi atau mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa mencegah supaya nara
sumber tidak berceramah, karena itu persiapan menghadapi berbagai karakter ini sangat
diperlukan.
Karena itu dalam persiapan wawancara ini diperlukan,menguasai materi, selain
menguasai nara sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar tidak direndahkan.
Apabila menghadapi nara sumber yang tidak menguasai masalah bisa mengarahkan tetapi
tanpa harus menggurui, sehingga bisa memahami persoalan yang akan digali.
MemeliharaSituasi
Secara sadar sering terbawa emosi, sehingga lupa sedang menghadapi nara
sumber, karena itu dalam wawancara harus pandai-pandai memelihara situasi supaya
mendapat informasi yang dibutuhkan dan jangan sampai terjebak ke dalam situasi
perdebatan dengan nara sumber yang diwawancarai. Juga perlu dihindari situasi diskusi
yang berkepanjangan atau bertindak berlebihan sampai menjurus ke arah interograsi
apalagi menghakimi.
Misalnya, wawancara dengan seorang direktur rumah sakit terkait dengan kasus
flu burung, karena etika kedokteran, sehingga harus dijaga dirahasiakan. Namun
pewawancara memaksakan kehendak, sehingga menimbulkan ketegangan dan
menghakimi direktur tersebut, bukan mendapat informasi malah tidak mendapatkan
informasi yang dibutuhkan. Dalam menghadapi kasus seperti itu pewawancara harus
mampu mencari celah untuk kembali pada situasi, agar mendapatkan informasi yang
lebih jelas.
Tangkas Menarik Kesimpulan
Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk secara setia mengikuti setiap
jawaban yang diberikan nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan tangkas. Dengan
kesimpulan yang tepat wawancara terus bisa dilanjutkan secara lancer. Kesalahan yang
sering dilakukan wartawan pada saat mengambil kesimpulan kurang tangkas, sehingga
nara sumber harus mengulang kembali apa yang telah disampaikan.
Kalau itu terjadi berulangkali maka akan membuat nara sumber bosan, sehingga
wawancara tidak berkembang, membuat pintu informasi menjadi tertutup. Akibat yang
paling parah kehilangan sumber berita, karena nara sumber takut salah kutip. Bagi nara
sumber yang teliti dan kritis, satu persatu kalimat akan menjadi pengamatan. Salah kutip
ini harus dihindari dalam setiap wawancara, Jangan takut minta pernyataan diulang atau
bahkan ada kata yang kurang jelas seperti ucapan bahasa Inggris harus selalu dicek
kebenaran arti dan ejaannya.
Menjaga Pokok Persoalan
Menjaga pokok persoalan sangat penting dalam setiap wawancara agar dalam
menggali informasi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasil yang
memuaskan. Seringkali dalam menjaga pokok persoalan ini diliputi perasaan rikuh kalau
kebetulan ayng diwawancari pejabat atau mempunyai otoritas dalam hal tertentu.
Serngkali untuk menjaga situasi ini ada anjuran pewawancara mengikuti apa yang
dikatakan nara sumber.
Meski harus mengikuti pembicaraan nara sumber diharapkan tidak lari dari pokok
persoalan bahkan berusaha mempertajam pokok masalah, agar tetap mendapatkan
informasi yang dibutuhkan. Contohnya, untuk mendapat gambaran yang lebih jelas
tentang kerusakan lingkungan, pada awalnya memang bercerita tentang lingkungan tetapi
di tengah-tengah pembicaraan membelok ke arah lain dan menyimpang dari pokok
persoalan. Kalau sudah demikian maka yang dilakukan segera mengembalikan inti
persoalan.
Kritis
Sikap kritis perlu dikembangkan dalam wawancara agar mendapat informasi yang
lebih terinci dan selengkap-lengkapnya. Untuk itu diperlukan kejelian dalam menangkap
persoalan yang berkaitan dengan pokok pembicaraan yang sedang dikembangkan. Jeli
dan kritis merupakan kaitan dengan kemampuan menangkap setiap kata dan kalimat
yang disampaikan oleh nara sumber.
Kekritisan tersebut tidak hanya menyangkut pokok persoalan, tetapi juga
menangkap gerakan-gerakan yang diwawancarai. Berkait dengan pokok persoalan kalau
kritis menangkapnya maka bisa meluruskan data bila nara sumber salah
mengungkapkannya. Baik itu tentang angka, tempat kejadian dan sebagainya. Ini penting
sebagai bahan untuk menuliskan laporan, sehingga benar-benar utuh dan penuh warna.
Kalau perlu ketika nara sumber sedang memberikan keterangan dalam keadaan
gelisah, terus menerus mengepulkan asap rokok dan sebagainya, hal ini harus ditangkap
sebagai isyarat yang bisa dituangkan dalam tulisan. Dengan demikian pembaca
mendapat gambaran utuh dan laporan tidak kering.
Sopan Santun
Dalam wawancara sopan santun perlu dijaga, karena ini menyangkut etikat
pergaulan di dalam masyarakat yang harus mendapat perhatian dan dipegang teguh.
Dalam menghadapi nara sumber kendali sudah mengkenal betul, tidak bisa bersikap
sembarangan, sombong atau perilaku yang tidak simpatik lainnya. Bila akan merokok,
sementara nara sumber tidak merokok harus minta izin. Apalagi kalau ruangan tempat
wawancara ber-AC maka sopan santun perlu dijaga.
Di awal maupun di akhir wawancara jangan lupa mengucapkan rasa terima kasih
kepada nara sumber,. Karena telah memberikan kesempatan dan mendapatkan informasi
dari hasil wawancara. Pada akhir wawancara pesan kepada nara sumber untuk tidak
keberatan dihubungi bila ada data yang diperlukan ternyata masih kurang.
Hal-hal praktis yang perlu mendapat perhatian dalam mengadakan wawancara
berkaitan dengan sopan santun:
Tidak perlu gusar bila nara sumber yang menjadi target wawancara menolak
dengan alasan sibuk. Mencoba dan mencoba lagi, agar diberi waktu untuk wawancara
merupakan suatu upaya, sampai mendapat kesempatan untuk membuat perjanjian waktu.
Untuk mendapat perjanjian bisa melalui telepon atau mendatangi langsung kantor
atau rumahnya.
Dihindari datang terlambat pada saat akan melakukan wawancara dan lebih baik
datang lebih awal.
Jangan sampai salah mengeja nama orang yang diwawancarai dan lebih baik
minta kartu nama atau paling tidak ketika nama nara sumber itu sulit dieja diminta
dengan hormat untuk menuliskan di bloknote yang digunakan untuk mencatat hasil
wawancara.
Cek kembali peralatan tulis apakah sudah lengkap, karena kalau sampai ada
peralatan tidak terbawa bisa membuat suasana awal dari wawancara menjadi kurang
berkesan.
Sebutkan alasan melakukan wawancara dengan tempat kerja, sehingga nara
sumber yang diwawancarai mengerti benar maksud wawancara.
Tidak perlu menjanjikan kepada nara sumber hasil wawancara pasti dimuat,
namun bisa meberikan keyakinan kegunaan dari hasil wawancara tersebut.
Penulisan Wawancara
Hasil wawancara bisa dituangkan dalam beberapa bentuk penulisan sesuai dengan
tujuan wawancara yang telah dilakukan. Bila hasil wawancara akan digabungkan dengan
hasil wawancara yang lain, cara menuliskannya akan lain dengan bentuk penulisan yang
didasarkan pada satu wawancara. Hasil wawancara dapat dipergunakan untuk bahan
penulisan berita atau straight news, laporan atau tulisan khusus wawancara.



0 komentar:

Create a Meebo Chat Room

  © Blogger template 'Tranquility' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP